Hello, SHINee World in here~~ ^o^

Jumat, 28 Mei 2010

Because Of You (part 2-end)


Main Cast : Kim Min Di & Choi Min Ho
Other cast : Lee Jin Ki, Kim Ki Bum, Kim Jong Hyun, Lee Tae Min


Min Di POV.

Aku sedang kacau dan kalut. Entahlah kenapa. Tapi perasaanku benar-benar kacau. Otakku serasa kosong tidak berisi. Akhirnya aku hanya bisa terdiam dan bengong saja.
Lalu aku merasa dorongan kuat dari arah bawah dan tubuhku serasa melayang. Saat aku membuka mataku di depanku sudah terdapat wajah Min Ho. Hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahku.
“Kau gila ya Kim Min Di? Kenapa kau malah bengong dan sampai bisa terjatuh seperti ini!” ucapnya sedikit ketus.
Aku hanya menatapnya dengan jantung yang berdegup kencang.
“Ya, kau kenapa? Sampai kapan kau mau seperti ini. Kau pikir tubuhmu ringan apa?”
Aku yang sadar dengan ucapannya langsung berdiri dan lari ke kamar kecil.
Aku menarik nafasku panjang. Jantungku masih berdegup, pipiku kurasakan panas. Aku memengangi dadaku.
“Omo...apa ia mendengarnya? Apa ia merasakan detakkan jantungku? Pabo kau Kim Min Di....”
Baru sekali aku sedekat itu dengannya. Ia benar-benar tampan....aku hampir gila di buatnya. Pantas saja aku sangat menyukainya. Di lihat dari jauh saja ia sudah tampan, apalagi dengan jarak sedekat itu?

Aigo....aku mau pingsan rasanya.

Saat keluar kamar kecil, di dapur aku melihatnya sedang membuatkan susu. Ternyata untuk Eun Seok dan berdiri di sebelahnya.
Aku hanya terpaku melihatnya. Ki Bum benar, ia memang sosok seorang Appa yang baik. Dan sempurna.

Ia melirik ke arahku, lalu aku memalingkan tatapanku. Aku melihat ia menggelengkan kepalanya.
Aku berjalan ke arahnya dan berdiri di sampingnya.
“Um....gomawoyo Min Ho, sudah menolongku.”
“Gwenchana. Tapi lain kali kau jangan seperti itu lagi. Itu sangat berbahaya.”
“Mwo?”
“Ne, bukan hanya untukmu, tapi untuk anak-anak dan untuk orang lain.”
“Apa maksudmu untuk anak-anak dan orang lain? Orang lain siapa yang kau maksud?”
“Ya tentu saja aku! Memangnya siapa lagi?”
“M, mwo?” aku makin tidak mengerti omongannya.
“Huh, kau benar-benar pabo ya Min Di. Kalau kau bersikap seperti tadi lagi kan harus ada orang yang menolongmu. Dan untungnya tadi ada aku, kalau tidak kau pasti sudah terjatuh ke lantai dan kepalamu terbentur. Kau tahu kalau kau menyusahkanku? Kalau sampai itu terjadi Jin Ki hyung akan menyangka kalau aku yang membuatmu seperti itu, lalu ia akan memarahiku dan memecatku.” Ucapnya panjang lebar.
Aku hanya terdiam mendengarkannya. Baru sekali aku melihatnya bicara sepanjang ini.

Aku menatap tangannya yang sedang membuatkan susu untuk Eun Seok. Lalu aku menarik botol susu itu dari tangannya.
“Sini biar aku saja yang membuatnya.”
Karena terlalu kasar aku tarik, susu di dalam botol yang belum di tutup itu tertumpah mengenai tangannya.
“Ya!” pekiknya sambil mengusap tangannya.
Aku terkejut dan menaruh botol itu di meja dan menarik tangannya. “Mi, mianhe...aku tidak sengaja.” Aku meniupi tanganya yang merah akibat kepanasan.
“Sudah awas!” Ucapnya kasar sambil menarik tangannya.
“Aku benar-benar tidak sengaja. Maafkan aku...”
Lalu aku berlari ke kamar mandi dan mengambil pasta gigi.
“Pakai ini, nanti lukamu akan sembuh.”
Aku mengoleskan pasta gigi itu di tangan Min Ho yang menatap kesal padaku.
“Nah, sudah, sebentar lagi tanganmu tidak akan sakit lagi.” Ucapku sambil tersenyum.
“Dasar gadis ceroboh, untung bukan Eun Seok yang terkena, kalau ia yang terkena bagaimana? Bagaimana kalau ini terjadi pada suami atau anakmu saat kau sudah menikah nanti?”
Aku langsung terbelalak saat mendengar ucapnnya. Tiba-tiba aku merasa wajahku panas kembali.
Min Ho lalu membereskan pekerjaannya dan mengajak Eun Seok kembali ke dalam.

Jin Ki oppa langsung menghampiriku sambil terenyum-senyum. “Romantis sekali.”
“Apa maksud oppa?”
“Tadi yang kau lakukan dengan Min Ho. Membuat susu berdua. Seperti sepasang suami isti saja.”
“Oppa..berhenti mengejekku.” Ucapku sambil cemberut.
“Aku sudah tahu Min Di.”
“Tahu apa?”
“Kalau kau. Menyukai Min Ho.” Ucapnya berbisik.
Mataku langsung membulat. “Ka, kau tahu darimana!”
Ia tersenyum licik. “Ki Bum. Ia bilang semuanya padaku. Kalian memang seperti sepasang suami istri tadi. Pasti kau sangat senang.”
“Oppa....”
“Ne, ne aku akan diam. Tapi sebaiknya kau jujur padanya agar ia tidak terus bersikap kasar padamu.” Ucapnya sambil mengelus rambutku.


Author POV.

“Hua...hiks...hiks...hiks...”
“Aigo...cup cup cup, tenang ya, kan aku sudah menggendongmu.”
“Huaa....”
“Ya...Tae Min, bagaimana ini? Jae Soo tidak mau berhenti menangis?”
“Aku juga tidak tahu noona, anak itu kenapa sih sebenarnya?”
“Ia pasti menginginkan Min Ho. Anak ini hanya menurut padanya.”
“Memang Min Ho hyung kemana?”
“Jong Hyun bilang ia tidak bisa masuk karena ibunya sakit. Sedangkan Ki Bum ada ujian di kampusnya. Makanya Jin Ki oppa menyuruh kalian berdua kesini untuk membantuku.”
“Lalu kita harus bagaimana noona?”
“Entahlah. Aku juga sudah pusing terus mendengarnya menangis. Kakiku juga pegal sudah sejam aku menggendongnya.”
“Ya, bagaimana kalau aku menelepon Min Ho hyung? Ya noona?”
“Ah terserah kau saja. Oh..cup cup cup..” ucap Min Di sambil menenangkan Jae Soo kembali.

20 menit kemudian Min Ho datang sambil tergesa-gesa. Ia langsung masuk dan menghampiri Min Di yang sedang menggendong Jae Soo. Saat melihat pria itu datang Jae Soo makin meraung dan mengulurkan tangan padanya.
Lalu Min Ho mengambil Jae Soo dari gendongan Min Di. Gadis itu langsung terduduk di lantai dan menyeka keringat di keningnya.
“Fyuh...” ucapnya.
“Kau keterlaluan Min Di. Masa kau tidak bisa menenangkan Jae Soo!”
“Kau kan sudah tahu kalau anak ini hanya menurut denganmu. Ia tidak pernah mau mendengarkan omonganku.”
“Ne hyung, kasihan noona, ia sudah sejam lebih menggendong Jae Soo dan menenangkannya, tapi anak itu masih saja menangis.”
Min Ho menatap Min Di tajam lalu menenangkan Jae Soo. Setelah 15 menit akhirnya Jae Soo tertidur karena kelelahan menangis.

Saat anak itu tertidur Min Ho meninggalkannya dan menuju tempat Min Di dan Tae Min.
“Ia sudah tidur hyung?” tanya Tae Min.
Min Ho hanya menganggukkan kepalanya. Lalu ia melirik ke arah Min Di. “Pabo, benar-benar pabo yeoja kau. Mata anak itu sampai merah dan bengkak karena terus menangis. Ia bahkan sampai terbatuk-batuk karena menjerit-jerit.”
Min Di mulai emosi. Ia berdiri di hadapan Min Ho. “Ya Choi Min Ho dengar ya, aku sudah muak dan bosan dengan kelakuanmu! Kenapa sih kau selalu bilang aku ini pabo yeoja! kau ini memang tidak punya perasaan ya! Sebenarnya kau punya hati tidak sih? Kenapa bisa-bisanya kau bebuat kasar pada seorang gadis sepertiku! Hah!”
Lalu Min Di pergi meninggalkan kedua pria itu. Tae Min hanya bengong menatap Min Ho yang barusan di maki-maki oleh Min Di.

Min Di berlari keluar gedung itu. Lalu ia berhenti dan duduk di bawah pohon besar di taman itu. Ia menangis di sana. Ia memeluk kedua lututnya sambil menangis, air matanya tak kunjung berhenti. Ia makin menangis dan makin merasa kesal.

Keesokan harinya.

Tae Min masuk ke ruangan itu sambil berlari. Sampai tas di punggungnya bergoyang. “Hyung, hyung. Ini, ini dari Min Di noona.” Ucapnya sambil menyerahkan surat pada Jin Ki.
“Apa ini?”
Tae Min menggeleng. “Tapi aku punya firasat buruk.” Ujarnya.
Jin Ki membuka dan membaca surat itu. Selesai membacanya ia meremas surat itu dan terlihat murka. Lalu ia menghampiri Min Ho yang sedang duduk di pojok ruangan sambil membaca buku.
“Ya Choi Min Ho, kau sudah keterlaluan!” bentaknya.
“Apa maksud hyung?”
“Kau tahu, Min Di mengundurkan diri! Ia berhenti bekerja dan semua itu karenamu!”
“Aku? Memang apa salahku?”
“Kau masih tanya apa salahmu? Kau selalu bersikap kasar dan selalu mengatai Min Di pabo! Ia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuanmu itu!”
Ki Bum dan Jong Hyun hanya terdiam melihat Jin Ki memarahi Min Ho.
“Memang kenapa kalau ia berhenti kerja? kan masih ada aku, Ki Bum, Jong Hyun hyung dan Tae Min yang masih bisa membantu di sini.”
“Tapi kalian semua namja! Tidak ada seorang yeoja di sini! Kau tahu kalau sangat susah mencari seorang gadis yang mau bekerja di tempat ini? Mereka selalu berpikiran kalau anak kecil itu menyusahkan dan menyebalkan. Tapi Min Di tidak seperti itu. Makanya ibuku menerimanya bekerja di sini.” Ucapnya sambil melempar surat itu ke Min Ho.
Min Ho hanya terdiam akibat kaget dengan perbuatan Jin Ki padanya barusan.
Jin Ki bertolak pinggang. Ia kesal setengah mati kali ini. “Jong Hyun, antar aku ke tempat Min Di tinggal. Aku mau bicara dengannya.”
“M, mwo? Aku tidak tahu tempat tinggalnya. Tae Min yang tahu.”
“Ya sudah kalau begitu kau yang mengantarku.” Ucap Jin Ki ke Tae Min.
“M, mwo? Um...sebenarnya aku tidak tahu pasti juga di mana rumah Min Di noona, tapi aku akan menemani hyung.”
Lalu mereka berdua pergi dari tempat itu.

Setelah 2 jam mereka berdua kembali. Ki Bum langsung menghampiri mereka. “Bagaimana? Apa kalian bertemu dengan Min Di?”
Tae Min menggelengkan kepalanya.
“Teman sekamarnya bilang Min Di sudah pindah.” Jawab Jin Ki.
Ki Bum langsung merangkul Tae Min. Sedangkan Jin Ki berjalan ke mejanya. Sebelumnya ia menoleh dan menatap Min Ho. “Kau benar-benar keterlaluan. Kuharap kau tidak akan menyesal dengan kelakuanmu kali ini. Dan satu lagi, kurasa Min Di sudah salah memilih orang.”
“Maksud hyung?” tanya Min Ho.
“Ia menyukaimu. Gadis itu menyukaimu. Pria yang selalu mengatainya pabo dan selalu bersikap kasar dan dingin padanya.” Lalu Jin Ki kembali berjalan.
Min Ho hanya dapat berdiri terpaku di tempatnya. Ia kaget mendengar ucapan Jin Ki. “Ki, Ki Bum, apa benar yang di bilang hyung tadi?”
Ki Bum menganggukkan kepalanya. “Ia memang menyukaimu. Walaupun kau selalu mengatainya pabo tapi ia tidak pernah bisa membencimu.”
Min Ho tersenyum kecut. “Pabo, ia benar-benar pabo yeoja. bagaimana bisa ia menyukai pria yang selalu bersikap kasar padanya?”
“Itulah yang di namakan cinta.” Ucap Jong Hyun. “cinta memang aneh, makanya ia sampai bisa menyukaimu. Bukannya aku yang jauh lebih baik padanya.”
Ki Bum dan Tae Min menatap Jong Hyun tajam.
“Waeyo?” tanya Jong Hyun polos.


Min Ho POV.

Tidak terasa sudah lewat seminggu. Entah mengapa anehnya aku merasa sepi sejak gadis itu berhenti kerja. Aku sudah tidak punya teman bertengkar lagi sekarang. Aku dan Ki Bum juga makin bertambah kerjaan. Walaupun kadang Jong Hyun hyung dan Tae Min suka membantu kami. Mungkin anak-anak ini juga kehilangan sosok seorang ‘ibu pengganti’ mereka. Karena hanya Min Di gadis yang bekerja di tempat ini. Mereka bisa mendapat kasih sayang seorang Appa dari aku dan Ki Bum, tapi mereka hanya bisa mendapat kasih sayang seorang Omma dari Min Di. Dan sekarang gadis itu sudah berhenti bekerja.
Dan satu lagi. Kata-kata Jin Ki hyung masih berputar-putar di kepalaku.
Kalau Min Di menyukaiku, walaupun aku selalu bersikap kasar padanya.


Hari itu secara tidak sengaja aku bertemu dengan Min Di. Sontak aku langsung memanggilnya.
“Min Di!”
Lalu ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku. Saat melihatku matanya langsung membulat dan berniat melanjutkan jalannya. Lalu aku mengejarnya dan untungnya aku berhasil menangkap lengannya.
“Lepaskan aku!” bentaknya sambil mengibas tangannya.
“Anni. Aku tidak akan melepaskanmu. Untuk apa sih kau tiba-tiba berhenti kerja? apa kau tahu sejak kau berhenti keadaan di sana jadi kacau! Aku dan Ki Bum kewalahan merawat bocah-bocah itu. Apa karena aku?”
Ia langsung berhenti meronta dan menatapku.
“Aku sudah tahu semua. Apa benar kalau kau menyukaiku?”
“Ka, kau bicara apa Choi Min Ho!”
“Jawab saja pertanyaanku! dan kali ini jangan berbohong lagi.”
“Anni. Aku tidak mencintaimu! Aku sangat membencimu! Sangat sangat sangat!!!”
“Kenapa sih kau malah berbohong? Pabo dasar.”
Min Di membesarkan matanya. “YA! Kenapa sih kau masih saja senang mengataiku pabo! Hah! bagaimana bisa aku menyukaimu! Pria yang berkali-kali mengataiku pabo!”
Aku tersenyum dan melepas gengganggam tanganku. “Kau munafik dan tukang bohong. Gadis payah.”
“YA!!”
Aku tertawa melihatnya. Ia terlihat sangat marah, namun lucu dan menggemaskan, aku seolah ingin mencubit pipinya.
Min Di terlihat ingin pergi lagi. Aku langsung mencegahnya.
“Kenapa sih kau tidak pernah bilang kalau kau menyukaiku?”
“Aku tidak menyukaimu!”
“Ya, jangan bohong. Seharusnya kau mengakui itu dari dulu pabo.”
“Ne, ne, aku memang pabo! makanya aku tidak mengatakan itu padamu! Aku menyesal sudah menyukaimu!”
“Berarti kau benar menyukaiku kan?”
Ia terlihat gelagapan. “Memang apa untungnya kalau aku jujur dari dulu?”
“Hmm...siapa tahu aku bisa membalas perasaanmu itu. Jujur, sejak kau berhenti kerja aku merasa kesepian. Aku kehilangan teman bertengkar.”
“Ya!”
“Mian, tapi apa kau tidak kasihan pada anak-anak itu? Sekarang mereka sudah tidak punya sosok ibu pengganti lagi. Yang ada hanya 5 namja yang kadang mulai bosan dan frustasi tiap kali melihat anak kecil menangis di depannya. Bahkan kadang ingin ikut menangis.”
“Maksudmu? Siapa?”
“Tae Min dan Jin Ki hyung. Jadi kuharap kau mau kembali bekerja. Kasihanilah kami dan anak-anak itu. Aku janji tidak akan membuatku kesal lagi, aku juga janji tidak akan mengataimu pabo lagi. Mau ya?”
“Anniyo!”
“Waeyo? Kau itu keras kepala sekali sih!”
“Pokoknya aku tidak mau! Aku trauma dengan kejadian waktu itu! Aku trauma tiap kali melihat seorang anak menangis meronta-ronta di hadapanku!”
“Kalau nanti kita mempunyai anak bagaimana kau bisa menenangkannya? Padahal kupikir kau itu memang sosok ibu dan istri yang baik. Jadi aku bisa tenang memilihmu.”
Aku melirik gadis itu yang wajahnya di penuhi pertanyaan.
“Y, ya, apa maksudmu sebenarnya? Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Tadinya aku mau berniat membuka hatiku untukmu. Ya siapa tahu kau bisa jadi istri dan ibu yang baik untukku dan anak-anakku nanti. Tapi ternyata kau sudah tidak menyukaiku lagi, bahkan kau trauma dengan anak kecil sekarang.”
“Min, Min Ho aku.....”
“Wae?”
“Um....sebenarnya.....aku...aku....masih menyukaimu. Sampai saat ini aku tidak pernah bisa melupakanmu.” Ucapnya malu dengan pipi yang merona.
Aku tersenyum. “Akhirnya kau jujur juga. Dasar gadis nakal.”
“Kau pikir aku anak kecil apa!”
Aku tertawa dan mengacak rambutnya. “Um...kalau begitu mulai sekarang kau resmi jadi ibu dari calon anak-anakku nanti, ya?”
“Mwo? Memang kau mau menikahiku?”
“Memang kau tidak mau menikah apa?”
“Ya maulah! Tapi nanti tidak sekarang. Kita kan masih sangat muda.”
“Siapa bilang aku mau menikahimu besok? Kan aku bilang nanti. Nanti kalau aku sudah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan yang layak.”
Ia mengecurutkan bibirnya dan aku mencubit pipinya.
“AAWW...Sakit tahu!”
“Biar, kau kan yeojachingu-ku sekarang. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu.”
“Jahat....” rengeknya. Aku makin tertawa melihatnya.

FIN

Because Of You (part 1)


Main Cast : Kim Min Di & Choi Min Ho
Other cast : Lee Jin Ki, Kim Ki Bum, Kim Jong Hyun, Lee Tae Min

Author POV.

“HUA.....”
“Cup-cup...tenang ya adik kecil...jangan menangis lagi, aku kan ada disini.”
“Omma~~~~”
“Sstt....”
“Omma~~~”
“Omma-mu kan sedang bekerja, jadi seharian ini kau denganku saja ya. Um...kau boleh anggap aku Omma-mu kok.” Ucap gadis itu dengan tersenyum.
Lalu sesosok laki-laki datang ke hadapannya dan bertolak pinggang. “Dasar pabo yeoja, sinikan anak itu.” Ucapnya sambil menarik anak kecil itu dari tangan gadis itu. “Mendiamkan seorang anak kecil saja kau tidak bisa.” lalu pria itu tersenyum pada anak kecil itu dan mengajaknya bermain. ”Ya, sekarang kau aman bersamaku. Jangan menangis lagi ya.”

Gadis itu berjalan ke pojok ruangan yang terdapat seorang pria yang sedang duduk di balik meja kayu.
Wajah gadis itu terlihat lesu dan sedikit kesal. Pria di hadapannya langsung menghentikan pekerjaannya. Ia menaruh pulpen di meja dan menatap gadis yang duduk di hadapannya. “Ya, kau kenapa lagi?”tanyanya.
Gadis itu menghembuskan nafasnya dan menunjuk arah depannya.
“Oh...jadi masalah itu lagi ya? kupikir apa.”
“Ah, kau Oppa. Kenapa sepertinya ini hal yang biasa saja sih untukmu?”
“Memang sudah biasa kan? Anak itu kan memang hanya menurut pada Min Ho. Bahkan Ki Bum saja tidak bisa menenangkan anak itu.”
“Huh...kenapa hanya pada pria itu? Kenapa padaku tidak? Padahal aku sudah membujuknya mati-matian. Bahkan aku sudah mengijinkan ia memanggilku Omma. Tapi anak itu tetap saja tidak mau menurutiku.”
Pria itu terkekeh.
“Waeyo! Memang ada yang lucu?!!” tanya gadis itu sedikit ketus.
“Kau yang lucu. Malang sekali memang nasibmu Min Di. Di tolak oleh seorang anak kecil.”
“Oppa...”
“Mian, habis kau itu lucu sekali sih. Masa baru seperti itu saja sudah patah semangat. Kan masih banyak anak lain yang mau menurutimu. Yang satu itu sih kau serahkan pada ahlinya saja.”
“Nugu?”
“Min Ho. Kan tadi aku sudah bilang kalau anak itu hanya mau menurut dengannya saja.”
“Pabo...aku memang pabo.”
“Ya, kenapa sih kau bersikap seperti ini?”
“Min Ho selalu berkata seperti itu padaku. Sepertinya aku memang pabo yeoja.” Ucapnya sambil cemberut.
“Tapi kau ibu yang baik.”
Gadis itu menatap pria di hadapannya.
“Mak, maksudku kau kan suka anak kecil, jadi nanti kalau kau sudah menikah pasti kau akan menjadi ibu yang baik.”
“Hah...sudahlah kau tidak usah menghiburku, percuma.” Lalu gadis itu berjalan meninggalkan pria itu.
“Ya! aku serius! Aku tidak hanya menghiburmu!” teriaknya.
“Ya hyung! Kau mau membangunkan anak-anak itu ya?!”
“Mi, mianhe Ki Bum-ah.”
“Aku sudah susah payah menidurkannya, awas sampai mereka bangun lagi. Akan ku suruh anak-anak itu mendekatimu!”
“Anni! Awas sampai kau melakukan hal itu! Akan kupecat kau!”
“YA! Tempat ini kan punya orang tuamu! Bukan punyamu! Jadi kau tidak berhak memecatku seenakmu!”
“Tentu saja aku bisa, kan aku anak pemilik tempat penitipan bayi ini.”
“Dasar licik kau Lee Jin Ki!”
Pria yang di panggil Lee Jin Ki itu hanya tersenyum puas melihat Ki Bum kesal setengah mati dibuat olehnya.


Min Di POV.

PABO, PABO, PABO
Selalu kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Aku heran padanya. Apa ia tidak mempunyai kosa kata lain? Kenapa ia selalu mengataiku pabo? Apa kau memang sebodoh itu?
Huh...mungkin aku memang pabo, aku malah jatuh cinta pada pria yang selalu memanggilku pabo yeoja itu.
Aneh bukan?

Aku selalu berhasil menenangkan bocah-bocah kecil itu tiap kali mereka menangis karena lapar atau rindu pada ibu mereka. Tapi ada satu anak yang sama sekali tidak mau menuruti aku. Namanya Jae Soo. Anak itu tidak pernah berhasil aku tenangkan. Hanya Min Ho yang bisa menenangkannya.
Padahal anak itu seorang laki-laki? seharusnya kan ia bisa menganggapku sebagai Omma-nya? Tapi kenapa ia malah lebih menyukai Min Ho?
Ne, Choi Min Ho. Ia adalah pria yang selalu mengatai aku bodoh. Tapi entah kenapa justu ia telah membuatku jatuh cinta.

Walaupun ia kasar dan dingin tapi ia sangat ramah dan hangat pada anak-anak di tempat ini. Itu salah satu hal yang membuatku menyukainya. Seolah ia memiliki kepribadian ganda! Walaupun Ki Bum juga memiliki sifat seperti itu tapi aku tidak tahu kenapa aku malah menyukai Min Ho, bukan Ki Bum yang sifatnya lebih baik 100 juta kali dari Min Ho padaku.

Kali ini baru aku yang datang ke tempat kerjaku itu, aku hanya celingak-celinguk di tempat itu. Saat ini tempat ini masih sepi. Karena orang tua bayi itu belum ada yang datang untuk menitipkan anak-anak mereka.
Daripada aku bengong lebih baik aku membereskan tempat itu saja. Saat sedang memunguti boneka dan mainan-mainan aku merasa ada suatu benda yang mampir ke kepalaku. Lalu benda itu jatuh di samping kakiku. Aku berdiri tegak dan mengambil benda itu.
“Ya bocah tengik! Keluar kau! Aku tahu kau yang melemparkan benda ini!”
Lalu ia keluar dari persembunyiannya sambil tersenyum polos lalu menghampiriku. “Hehehe...Annyong noona.”
Aku menatapnya dan berkacak pinggang. “Benarkan ternyata kau?” lalu aku memukul kepalanya dengan boneka itu. “Dasar anak nakal!”
“Aaw! Ya noona, kau kejam sekali sih!”
“Kau duluan yang melempar itu padaku, kenapa sih kau itu iseng sekali?”
“Mian noona, aku kan hanya bercanda....”
“Mana ada bercanda seperti ini. Kau memang nakal Lee Tae Min.”
“Ah..noona. Maafkan aku~~~” ucapnya sambil menarik lengan bajuku.
“Ya, kau itu udah dewasa tahu! Kenapa sikapmu seperti anak kecil berumur 5 tahun sih?”
“Hehehehe....”
Aku juga ikut tertawa dan mengacak rambutnya.

Lalu ia membantuku membereskan tempat itu.
“Noona. Yang lain mana? Kenapa kau hanya sendirian?”
“Entahlah, mungkin mereka masih ada kelas pagi ini.”
“Ohh....”
“Lalu, kakak sepupumu itu kemana? Sepertinya ia belum kelihatan?”
“Jin Ki hyung bilang ia ada urusan. Ia menyuruhku menggantikannya dulu.”
“Jinjja? Kau serius?”
“Tentu saja! Kenapa kau sepertinya tidak percaya?”
“Bagaimana mau percaya, anak bocah sepertimu masa di suruh menjaga tempat ini.”
“Ya! setidaknya aku berani pada anak-anak itu, tidak sepert Jin Ki hyung.”
Lalu kami berdua tertawa.
Gemerincing hiasan pintu itu berbunyi. Lalu kami berdua melihat ke arah pintu masuk.
“Annyong, mian aku terlambat.”
“Jong Hyung? Mau apa kau?” tanyaku.
“Mwo? Tentu saja menjaga tempat ini. Menggantikan tugas Jin Ki hyung.”
“Mwo?” aku bingung di buatnya. “Tadi Tae Min bilang ia yang di suruh Jin Ki menggantikan tugasnya?”
“Hah, kau ini, masa kau percaya dengan omongan bocah nakal itu?”
“Sebenarnya aku memang tidak percaya, mana mungkin oppa menyuruhnya menjaga tempat ini.” Ucapku sambil menatap Tae Min yang hanya cengengesan.


Author POV.

“Hah, lagi-lagi anak itu menangis, aku tidak tahu harus berbuat apa.” Gumam Min Di. Lalu ia berjalan ke arah Min Ho yang sedang bermain dengan dua anak kecil. “Ya, anak kesayanganmu menangis lagi.” Ucapnya.
Min Ho berbalik dan menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Jae Soo. Ia menangis, lebih baik kau tenangkan dulu dia.”
Min Ho berdiri dan menatap Min Di tajam. “Lalu kau hanya mendiamkannya? Bukannya menenangkannya malah meninggalkannya. Begitu? Kau benar-benar pabo Min Di.”
“Ya, bisa tidak sih kalian tidak bertengkar sehari saja, kalian mau anak-anak ini semuanya meniru perbuatan kalian yang tidak baik ya?” ucap Ki Bum.
Mereka berdua menatap Ki Bum dan hanya mendiamkannya saja.
Min Ho menatap gadis yang berdiri di depannya lagi. “Kau...Hah...sudahlah aku malas bertengkar denganmu.” Lalu Min Ho berjalan meninggalkan Min Di yang berdiri terpaku.

Lalu Min Di duduk di lantai dan menjaga kedua anak kecil yang sedang bermain di hadapannya. Lalu Ki Bum datang sambil menggendong seorang anak. Ia duduk di sebelah Min Di.
“Selalu seperti ini. Kenapa sih kalian tidak bisa baikkan saja?”
“Bukan salahku. Tapi salahnya. Aku sudah bersikap baik padanya, tapi ia selalu bersikap dingin dan selalu mengatai aku bodoh. Aku sampai bosan mendengarnya.”
“Huh...kau tahu, kalian berdua seperti sepasang suami istri yang sedang bertengkar dan di lihat oleh anak kalian.”
“Ya Ki Bum-ah...Aku kesal padanya, tapi aku tidak pernah bisa membencinya.”
“Jadi kau masih menyukainya ya?”
Min Di menganggukkan kepalanya.
“Dasar, gadis aneh.” Gumam Ki Bum.
Min Di langsung menghadapnya. “Tuh kan, kau saja bilang aku aneh, Min Ho selalu bilang aku bodoh. Kenapa sih di mata kalian aku ini tidak ada baik-baiknya?”
“Y, ya, maksudku bukan begitu.” Ki Bum merasa kalau ia salah berbicara, ia menggaruk kepalanya. “sebenarnya kau gadis yang baik kok. Kalau tidak kan kau tidak akan bekerja di sini. Kau juga sangat peduli dan sayang pada anak-anak di sini kan?”
Min Di mengangguk.
“Itu tandanya kau akan menjadi ibu yang baik nanti saat kau sudah menikah.”
“Demi Tuhan Kim Ki Bum, omonganmu sama persis dengan Jin Ki oppa.”
“Benarkah?”
“Ne.”
“Berarti memang benar.”
“Tapi aku tidak pernah bisa menenangkan Jae Soo.” Gadis itu murung lagi.
“Kalau masalah itu....memang sulit. Ia hanya mau menuruti kata-kata Min Ho saja. Seolah ia benar-benar Appa-nya.”
Min Di hanya terdiam dan terduduk lesu.
“Ia juga sebenarnya pria yang baik. Dan akan menjadi Appa yang baik nantinya.”
“Kau jauh lebih baik darinya.”
Ki Bum langsung melirik ke arah Min Di dan tersenyum lebar. “Haha..tentu saja, siapa dulu. Kim Ki Bum.” Ucapnya sombong.


Min Ho POV.

Aku heran kenapa Jin Ki hyung mengijinkan gadis itu bekerja di tempat ini? Ia benar-benar gadis pabo dan aneh. Ia tidak bisa menenangkan seorang anak yang sedang menangis kejar. Bahkan ia malah mendiamkannya dan meyuruhku menenangkannya. Benar-benar tidak ada usahanya.
Aku tahu kalau sebenarnya ia sangat menyukai anak kecil, sama sepertiku, makanya ia memilih bekerja di sini. Tapi ia benar-benar keterlaluan kali ini. Kalau sampai orang tua Jae Soo melihat hal ini kan bisa-bisa mereka beranggapan kalau kami semua tidak becus mengurus anak mereka dan mereka nantinya tidak akan menitipkan anaknya lagi di sini.


“Onnie~~~”
Aku melihat Eun Seok menarik-narik ujung celana gadis itu. Tapi ia malah bengong dan mendiamkan Eun Seok. Seolah ia tidak merasakan keberadaan anak itu.
“Onnie~~~aku haus~~aku mau susu~~~”
Gadis itu masih saja terdiam tak bergeming. Lalu Eun Seok mendorong kakinya sampai ia hampir terjatuh.
Melihat itu refleks aku langsung berlari ke arahnya dan menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh ke lantai kayu itu.
“Kau gila ya Kim Min Di? Kenapa kau malah bengong dan sampai bisa terjatuh seperti ini!” ucapku padanya yang masih berada di lenganku karena aku tolong tadi.
Ia hanya terdiam dan menatapku saja.
“Ya, kau kenapa? Sampai kapan kau mau seperti ini. Kau pikir tubuhmu ringan apa?”
Lalu ia membenarkan posisinya dan berlari ke arah kamar kecil. Aku menatapnya keheranan dan berjongkok di depan Eun Seok. “Ya, Onnie sedang kacau, jadi Oppa saja ya membuatkanmu susu.”
“Ne Oppa.” Jawabnya manis.
Lalu aku menggandeng tangannya dan membuatkannya susu.

To be continue...

Selasa, 25 Mei 2010

CHUKAE MY SHINING SHINee...

CHUKAE 4 SHINee...^^

Selamet ya kalian udah 2 taun debut...^^
Ga terasa ya.. apalagi buat gw yang masih baru banget jadi seorang SHINeeWorld a.k.a Shawol..

Moga kalian berlima tabah eksis, tambah tenar, tambah manis2, tambah ganteng2, tambah gokil2, tambah cute2, tambah dewasa, tambah manis, tambah keren, makin kompak, um...apalagi yak? Sayah jadi bingung??

Oh iya! Ini pesan paling penting..

PLEASE COMEBACK QUICKLY!!!

Para Shawol udah kanget berat sama penampilan kalian, pengen liat ‘muke baru-nya’ Onew, Jonghyun, Key, Minho ma Taemin bakal kaya apa di album barunya nanti.


Gw sih berharap konsepnya boys to men *kayak yang Ika Onnie harapkan..sayah setuju banget tuh Onn...*
Kayak di MV RDD...

Manly banget dah mereka berlima!!
Sayah ampe klepek-lepek tiap liat MV-nya..


Uwah...sayah bingung mao nulis apalagi??


Masih baru sih jadi Shawol....tapi udah tergila2 abis & tiap hari nyebarin virus SHINee di manapun..wkwkwkw...


Semalem sayah liat MV RDD di arirang (di Pops in Seoul)
Langsung senyum2 geje dah gw sangking kegirangannya...

MAHNI-MAHNI SARANGHAE-LAH POKOKNYA 4 SHINee....^^
Nyahahahaha...*noona sarap!*

Gw anggep itu sebagai kado buat 2nd year debuted kalian..


LOVE U SHINee..
Terus bersinar ya di hati para Shawol sedunia...^^


Sekali lagi CHUKAE 4 SHINee...^^

SHINee..HWAITING!!
SHINee..jjang!!


Buat kado, gw kasih dah kumpulan poto2 SHINee dari awal debut sampe poto terbarunya..(revolution of Shining SHINee..) selamet menikmati....*lo kata makanan apah!!*


Kamis, 20 Mei 2010

Please Don`t Go (oneshot FF)

Main Cast : Kim Min Di and Choi Min Ho
Other Cast : Park Hye Ae, Lee Jin Ki and Kim Ki Bum


“MIN HO...BANGUN...KUMOHON BANGUN....” tangis gadis itu.
“Min Di ayolah mengerti semua ini...ia sudah pergi...”
“ANNI!! IA TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU! IA SUDAH BERJANJI PADAKU AKAN SELALU BERSAMAKU...AKU TIDAK MAU IA MENINGGALKANKU...”
“Kim Min Di ayolah, kau jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini.”
“Min Ho....Min Ho....jebal....” rengeknya.

Min Di menangisi kepergian kekasihnya, Min Ho. Ia tidak mau berhenti memanggil namanya dan mengguncang-guncangkan tubuhnya yang sudah kaku dan pucat.
Min Di terus menangis melihat wajah kekasihnya yang sudah pucat pasi itu. Ia masih tidak percaya kalau kekasihnya itu akan meninggalkannya secepat ini. Ia tidak bisa menerima itu semua.
Semua orang tidak ada yang bisa menahan Min Di, bahkan Jin Ki dan Hye Ae juga tidak bisa menahan Min Di. Ia benar-benar terpukul dengan kejadian ini. Ini bagaikan petir di siang bolong baginya. Padahal semalam ia masih berbicara dengan kekasihnya itu di telepon, tapi pagi tadi ia di beritahu oleh Jin Ki kalau Min Ho mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak bisa di tolong lagi.

“Min Ho jebal....jangan tinggalkan aku....”

BRUK
Min Di langsung terjatuh di lantai karena terlalu syok dan sedih.

Saat membuka matanya ia sudah berbaring di ranjang rumah sakit. Di hadapannya sudah terdapat Hye Ae dan Jin Ki yang tampak khawatir.
“Min Di, syukurlah kau sudah sadar.” Ucap Hye Ae lega.
“Min Ho...mana dia...aku mau bertemu dengannya....” pinta Min Di lemah.
“Min Di kumohon kau bisa menerima ini semua. Min Ho sudah meninggal, ia sudah meninggalkan kita semua.” Ucap Jin Ki bijak.
“ANNI! Ia belum mati! Ia hanya tertidur saja, ia tidak mungkin meninggalkanku! Kau pasti membohongiku kan?”
“Untuk apa aku membohongimu? Tidak ada gunanya! Kau pikir hanya kau yang sedih? Semuanya juga sedih, semua juga tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi ini memang kenyataan. Kalau Min Ho sudah meninggal! Dan ia tidak akan hidup lagi!”
“OPPA!! Berhenti berkata seperti itu!”
“Oppa...” ucap Hye Ae pada namjachingu-nya pelan sambil menggenggam tangannya.
Lalu ibu Min Di pun datang dan langsung menghampiri anaknya.
“Min Di..”
“Omma....Min Ho, Omma...Min Ho....” rengeknya di pelukan ibunya.
“Ssstt...kau jangan menangis lagi ya, mungkin ini memang sudah takdir. Kau jangan bersedih lagi ya.”
“Tapi Min Ho berjanji padaku kalau bulan depan ia akan menikahiku...ia mau melamarku Omma...”
“Kau sabar ya nak.”
Min Di makin meluapkan semua emosinya di depan ibunya. Air matanya makin membanjiri baju ibunya.
Hye Ae dan Jin Ki memilih untuk keluar kamar.
Jin Ki menghela nafasnya berat. Hye Ae memandangnya lembut.
“Aku tidak menyangka kalau ia akan pergi secepat ini.” Ucap Jin Ki.
“Ne, Min Di pasti hancur sekali. Kasihan dia.”
Lalu Jin Ki merangkul Hye Ae lembut.

3 hari kemudian.

“Min Di ayo makan dulu, kau belum makan dari kemarin.” Ucap Ibu Min Di sambil mengelus rambut anaknya.
“Andwe, aku tidak mau makan.” Ucap Min Di sambil menatap ke depan. Tatapannya kosong dan menyiratkan kesedihan yang mendalam.
“Kalu kau tidak mau makan kau nanti akan sakit, apa kau mau membuat Omma khawatir?”
“Biar, biar saja aku sakit. Aku mau mati saja. Untuk apa aku hidup, Min Ho sudah meninggalkanku. Tak ada gunanya lagi aku hidup.”
“Min Di, kau tega meninggalkan Omma sendiri? Kau tidak kasihan pada Omma?”
“Aku tidak sanggup hidup sendiri Omma, aku mau menyusul Min Ho saja.”
“Kim Min Di, jangan bersikap bodoh. Kau harus sadar kalau tanpa Min Ho kau masih bisa menjalani hidupmu, kau masih memiliki yang lain, Omma, Hye Ae, Jin Ki, kau juga masih ingin meraih cita-citamu kan menjadi seorang penulis?”
“Semuanya sudah hancur. Impianku sudah hancur. Aku tidak mau apa-apalagi sekarang. Yang aku mau hanya bertemu dengan Min Ho.”

Ibu Min Di sudah tidak bisa membujuk anak satu-satunya itu. Akhirnya ia meminta bantuan Hye Ae, sahabat Min Di sejak lama.
15 menit kemudian Hye Ae sampai di rumah Min Di dengan Jin Ki.

“Min Di, ibumu bilang kau tidak mau makan ya? Kenapa?”
“Aku mau mati saja. Aku mau menyusul Min Ho.” Jawabnya datar.
“Kau gila ya Kim Min Di!” ujar Jin Ki.
Min Di langsung menatapnya sinis.
“Ya, sadar, hidupmu masih harus terus berjalan, kau pikir kalau Min Ho mati hidupmu akan hancur? Dia bukan segala-galanya, aku tahu kau sangat mencintainya tapi tidak seperti ini.”
“Coba kalau ini terjadi padamu, apa kau tidak akan hancur? Apa kau tidak merasa ingin mati saja? Aku benar-benar sedih Oppa, aku sudah tidak sanggup menahan kesedihanku ini. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Di otakku hanya ada Min Ho. Aku sangat mencintainya, tapi tiba-tiba ia meninggalkanku untuk selamanya. Apa kau bisa mengerti perasaanku?” air mata Min Di pun mengalir di pipi putihnya.
Hye Ae mengelus punggungnya. “Aku tahu kau sangat mencintai Min Ho, tapi kalau seperti ini namanya kau menyakiti dirimu sendiri. Lagipula kalau Min Ho melihatmu ia pasti sangat sedih. Ia pasti sedih melihat yeojachingu-nya menyakiti dirinya sendiri. Apa kau tidak kasihan padanya? Pada Omma-mu juga?”
Tangisan Min Di makin menjadi. Ia makin mengingat namjachingu-nya itu. Wajahnya, senyumnya, suaranya, tawanya, kebaikannya, perhatiannya, segalanya, segala hal yang membuat Min Di sangat mencintai pria itu.


Sudah hampir sebulan lewat sejak kematian Min Ho. Min Di masih terpuruk dan tidak bisa menerima semuanya. Ia masih tidak mau keluar kamarnya. Keadaanya sangat memprihatinkan. Ia bagai mayat hidup.
Wajahnya pucat dan lemas, bibir pinknya menjadi kering dan pucat, tubuhnya pun makin kurus, matanya makin menyipit dan bengkak akibat terus-terusan menangis.
Tidak ada satu orangpun yang berhasil membujuknya untuk menjalani hidup dengan normal lagi. Ia tetap tidak bisa melupakan Min Ho.
Bahkan Sudah beberapa kali Min Di mencoba bunuh diri. Tapi untungnya selalu gagal dan selalu di pergoki. Ia sudah mencoba berbagai cara. Dari ingin menyayat urat nadinya, minum racun, dan lain-lain. Tapi Tuhan masih menyanyanginya dan masih mengijinkanya hidup.

+++

Flash back.

“Min Ho, kau janji kan tidak akan meninggalkanku sendiri?”
“Aku janji. Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun. Bahkan sampai aku matipun aku akan selalu bersamamu.”
“Janji?”
“Ne.”
Lalu mereka berdua tersenyum sambil mengaitkan kelingking mereka.

End of flash back.

+++

“Min Ho...Min Ho...kau dimana? Aku takut...aku sendirian...” teriak Min Di sambil celingak-celinguk di padang rumput luas itu sambil memegangi gaun panjangnya yang berwarna putih bersih.
Saat berlari mencari namjachingu-nya lalu ia melihat sosok orang yang ia cari. Ia mengenakan baju putih-putih dan tersenyum pada yeojachingu-nya itu. Min Di langsung berlari ke arahnya dan memeluknya.


“Kau dari mana. Aku takut.”
Min Ho tersenyum manis dan mengelus rambut Min Di lembut. “Mian jagiya, aku harus pergi.”
“Kau sudah janji tidak akan meninggalkanku. Kenapa kau membohongiku?”
“Aku memang janji tidak akan meninggalkanmu, tapi kita memang harus berpisah kali ini. Aku yakin suatu saat nanti pasti kita bisa bertemu lagi. Aku janji.”
“Aku tidak mau! Aku tidak mau berpisah denganmu...”
“Saranghaeyo jagiya...”
Lalu Min Ho makin menjauh darinya, seolah ia di tarik oleh cahaya putih di belakangnya yang menyilaukan mata. Min Di masih menggenggam tangannya, saat kekasihnya makin menjauh ia mulai menangis dan terus memanggil namanya.
“Min Ho...Min Ho....kumohon kembali...”

“Min Ho!” pekik Min Di sambil terbangun dari tempat tidurnya. Ia memegangi kepalanya. “Ah...ternyata hanya mimpi. Aku sangat merindukannya, aku menginginkannya...”
Min Di menatap ke langit di luar dari jendela kamarnya. “Min Ho, apa kau juga merindukanku? Apa kau merasa hal yang sama denganku? Aku sangat meridukanmu, aku menginginkanmu....” lalu ia mengambil pigura yang terdapat foto wajahnya dan Min Ho yang sedang tersenyum bahagia. Lalu ia memeluk foto itu dan menangisinya.

+++

Hari itu Min Di berniat pergi ke makam Min Ho. Tadinya ia ingin meminta Hye Ae untuk menemaninya, namun saat ia ingat kalau sahabatnya itu harus bekerja, ia tidak jadi meminta bantuannya. Akhirnya Min Di pergi sendiri ke makam namjachingu-nya itu.

Saat ingin menyebrang jalan, ia tidak memperhatikan kalau di depannya ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat. Akhirnya ia tertabrak dengan mobil itu.
Bunga di tangannya berhambur kemana-mana. Min Di tergeletak di tengah jalan, baju putihnya penuh berlumuran darah.
Pria yang mengendarai mobil itu langsung turun dan melihat keadaan orang yang ia tabrak, lalu tanpa basa-basi ia langsung membawa gadis itu ke rumah sakit.
Min Di langsung masuk ke ruang operasi begitu sampai di rumah sakit. Setengah jam kemudian Omma-nya, Hye Ae dan Jin Ki datang ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Omma Min Di panik.
“Mianhamnida Ajuma. Aku tidak sengaja menabraknya, aku, aku...” ucap pria itu sambil membungkuk.
Hye Ae mulai terisak, Jin Ki merangkulnya ke pelukannya. “Kau kenapa jagiya?”
“Min Di...Min Di..aku takut ia kenapa-kenapa...kejadian ini sama persis dengan saat Min Ho meninggal....”
“Shsshh...kau jangan berpikir seperti itu, lebih baik kita berdoa saja agar Min Di bisa selamat.”

Sudah satu jam mereka menunggu di depan ruang operasi itu. Omma Min Di duduk bersebelahan dengan Hye Ae. Jin Ki menghampiri pria yang mengantar sekaligus menabrak Min Di tadi. Ia duduk di sebelahnya.
“Sebenarnya, bagaimana kau bisa menabraknya? Bagaimana kejadian itu bisa terjadi?”
“Hah? aku, aku tadi memang sedang mengebut, sampai-sampai aku tidak tahu kalau ada seorang gadis yang sedang menyebrang. Mianhamnida, aku benar-benar tidak sengaja.”
Jin Ki menepuk pundaknya. “Sudahlah, tidak ada gunanya kau merasa bersalah dan terus meminta maaf. Oh iya, siapa namamu?”
“Oh, naneun Ki Bum imnida. Kim Ki Bum.”
“Aku Jin Ki, Lee Jin Ki. Aku sahabatnya Min Di, sedangkan gadis itu adalah Park Hye Ae, ia yeojachingu-ku, sahabat Min Di juga.”
“Um...mian, apa aku boleh bertanya sesuatu?”
“Mwo?”
“Um...tadi aku bertemu gadis itu di dekat pemakaman. Sebenarnya ia mau kemana? Apa ia mau kemakam seseorang?”
“Sepertinya iya. Mungkin ia ingin ke makam namjachingu-nya. Dua bulan yang lalu ia di tinggal pergi kekasihnya, dan ia sangat terpuruk dengan kejadian itu.”
Ki Bum langsung membulat mulutnya. Ia makin merasa bersalah.

Dokter keluar dari ruang operasi itu. Omma Min Di, Hye Ae, Jin Ki dan bahkan Ki Bum langsung menyerbunya.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Jin Ki.
Dokter itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. “Mianhamnida, kami sudah berusaha, tapi...ia kehabisan banyak darah, jadi....”
Omma Min Di langsung jatuh ke lantai sambil menangis. Hye Ae juga ikut menangis dan memeluknya. Jin Ki hanya bisa terdiam saja, Ki Bum langsung terlihat syok berat dan mematung.
“Mi, mian...mian aku, aku sudah....” ucap Ki Bum terbata. Aku sudah membunuh seorang gadis...batinnya.
Hye Ae memeluk Jin Ki sambil menangis, Jin Ki hanya mengelus rambutnya. “Akhirnya ia mendapat keinginannya, akhirnya ia bisa bertemu dengan Min Ho.” Ucap Jin Ki.
“Oppa tapi....”
“Percayalah kalau ia pasti sudah bahagia. Akhirnya ia bisa bersatu dengan Min Ho lagi. Walaupun caranya seperti ini.”

+++

Saat tergeletak di tanah setelah di tabrak, Min Di melihat bayangan Min Ho yang tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Ia memakai baju yang sama persis dengan mimpinya waktu itu. Gadis itu langsung tersenyum menatapnya lalu ia ikut pergi bersamanya.
Akhirnya ia bisa bersama dengan orang yang paling ia cintai itu. Akhirnya mereka bisa bersatu lagi. Mereka bisa melaksanakan janji yang mereka ucapkan waktu itu.

FIN

an:mian ya buat para Flames ma Keylock..jangan bantai saya..hiks..hiks.. *author takut*

maap ya saya bikin Min Ho mati..*padahal authornya juga ga rela..i really2 love him very much..*

maap juga saya bikin Key jd pembunuh..*Key baek kok sebenanrnya..dy ga sengaja nabrak Min Di..*

sekali lagi maap ya kalo FF nya bikin kesel..saya cuma pengen bikin FF sedih ajah..

jeongmal mianhamnida...*bow*

Senin, 17 Mei 2010

Cherry Blossom part 3-END (FF mini drama)

Cast :
Lee Hyun Jae
Choi Min Ho
Lee Tae Min
Lee Jin Ki


Hyun Jae POV.

Omo....apa yang harus aku lakukan? Aku harus memilih siapa? Aku menyukai mereka berdua...
Kau gila Hyun Jae! Benar-benar gadis gila! Bisa-bisanya kau menyukai kedua namja itu, kau kan tahu kalau mereka bersahabat, kau itu hanya perusak hubungan orang saja!
Hah....aku mau mati rasanya kalau terus-terusan seperti ini!!

“Ya, kenapa lagi kau? Kenapa uring-uringan seperti itu?” tanya Jin Ki oppa.
“Aku stres....”
“Hah, pasti karena kedua namja itu.”
Aku mengangguk. Jin Ki oppa mengelus kepalaku. “Pilih saja 1 yang terbaik menurutmu.”
“Susah..mereka berdua sama-sama baik. Kalau aku pilih salah satu pasti yang lainnya akan merasa sakit hati, aku tidak mau seperti itu, aku menyanyangi mereka berdua oppa...bagaimana ini?”
“Hah, kau itu sulit sekali sih adik kecil, aku juga jadi bingung harus memberimu saran apa?”


Author POV.

Siang itu Min Ho dan Tae Min sudah sampai di taman lebih dulu. Mereka berdua terlihat gugup dan canggung. Tae Min sejak tadi tak henti memainkan jari-jarinya, sedangkan Min Ho hanya diam saja sejak tadi.
Lalu Hyun Jae pun datang juga. Siang itu gadis itu mengenakan gaun selutut berwarna kuning muda dan cardigan orange plus sepatu wedges orange, rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan jepitan berbentuk kupu-kupu di sisi poninya.
Saat melihat gadis itu mereka berdua langsung berdiri.
“Mian sudah membuat kalian menunggu.” Ucap Hyun Jae sambil membungkuk.
“Anni, gwenchana. Apa...kau sudah mempunyai jawabannya?” tanya Min Ho.
“Ne noona, sudah ada kan?” sambung Tae Min.
“Jadi siapa yang akan kau pilih diantara kami?” tanya Min Ho.
Hyun Jae mengehela nafasnya. “Aku...aku...mian sebelumnya kalau aku menyakiti hati kalian berdua. Sepertinya aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian.” Ucap gadis itu sambil menunduk.
Kedua namja di hadapannya berhasil dibuat tercengang.
“A, apa maksudmu?” tanya Min Ho.
“Ne, aku rasa aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Aku...aku menyanyangi kalian berdua. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua.”
“Kalau begitu kenapa tidak ada yang kau pilih?” tanya Tae Min.
“Kalau aku memilih salah satu diantara kalian pasti akan ada yang terluka, aku tidak mau seperti itu. Aku masih punya perasaan, mana mungkin aku menyakiti orang sebaik kalian berdua.”
Min Ho mendesah. “Hah...kalau begini kau membuat kami bingung noona.”
“Mian...tapi aku punya ide yang menurutku tidak terlalu buruk.”
“Mwo?” tanya Tae Min penasaran.
“Um...biarkan aku menjadi noona kalian saja. Kalian mau kan? Kan kalian berdua umurnya di bawahku. Lagipula Tae Min masih sekolah, Min Ho juga masih kuliah, kurasa kalian belum waktunya memiliki seorang yeojachingu.”
“Ya, aku hanya setahun di bawahmu noona.” Ujar Min Ho.
“Aku juga tahu! Sudahlah itu saja ideku, bagaimana? kalian mau tidak? Kita bersahabat saja, kalau begitu kan tidak akan ada yang tersakiti.
Tae Min dan Min Ho hanya berpandang-pandangan saja.

+++

“Ya! Awas nanti kau jatuh!” teriak Hyun Jae.
“Ah sudah kau diam saja, aku sudah biasa.”
“Kau itu dulunya maling ya?” ucap Hyun Jae sambil bertolak pinggang.
Tae Min tersenyum. “Sudah noona, Min Ho hyung sudah biasa memanjat pohon, jadi ia tak akan jatuh.”
Min Ho pun melompat dari dahan pohon itu. Hyun Jae langsung memukul kepalanya.
“Ya! Kau gila ya!” ujar Min Ho.
“Kau yang gila! Kalau kau sampai jatuh bagaimana! Pasti Omma-mu akan memarahiku!”
“Dia sudah biasa noona, kau tenang saja, Ajuma tidak akan memarahimu.” Bela Tae Min.

Akhirnya mereka bertiga duduk di bawah pohon ceri itu sambil makan buah ceri yang tadi di petik Min Ho. Mereka bertiga memakai baju kembaran, baju Clirde N berwarna putih dengan gambar kucing dan jins biru.

“Hah...aku heran, kenapa dulu aku bisa suka dengan gadis sepertimu ya?” ucap Min Ho yang langsung di pukul lengannya oleh Hyun Jae.
“Ya gadis kupu-kupu! Kenapa sih kau selalu menganiayaku!”
Hyun Jae malah memeletkan lidahnya.
“Tapi aku senang kok dengan keadaan kita sekarang.” Ucap Tae Min.
“Waeyo?” tanya Min Ho dan Hyun Jae kompak.
“Um...karena tidak akan ada yang terluka di antara kita, dan kita akan selalu bertiga selamanya. Ya kan?”
“ANNI!” jawab mereka berdua bareng lagi.
“Waeyo?” tanya Tae Min sedih.
“Aku tidak mau selalu bersama kalian berdua terus! Bisa-bisa aku tidak punya namjachingu selamanya!” ucap Hyun Jae polos.
Min Ho tersenyum nakal. “Kau tidak akan bisa lepas dari kami berdua noona, pokoknya kita akan selalu bertiga selamanya.”
“ANDWE!! Aku tidak mau!!!”
“Ah~~~kau kan menyukai kami berdua noona, jadi kan tidak ada salahnya.”
“Itu dulu pabo! Sekarang aku hanya menganggap kalian dongsaeng-ku, keluargaku saja. Tidak boleh ada rasa cinta diantara kita!”
“Kalau ternyata kami berduua masih menyukaimu bagaimana?”
Hyun Jae langsung melolot. Dan menatap Min Ho dan Tae Min bergantian.
Min Ho malah tertawa lepas. “HAHAHAHA...wajahmu lucu sekali noona, aku tidak tahan melihatnya.”
Tae Min juga tersenyum kecil.
“Ah~~~Min Ho pabo!!” teriak Hyun Jae kesal.

Akhirnya mereka bertiga hanya menjalin persahabatan saja, ikatan yang jauh lebih erat dari berpacaran. Mereka sudah janji kalau tidak ada yang boleh saling jatuh cinta diantara mereka bertiga, hanya boleh bersahabat saja. Dan selama hampir setahun ini mereka cukup menikmati keadaan itu.



FIN